MENGENAL FILSAFAT

ENDRIANTO BAYU SETIAWAN

Part 1

 “Cogito ergo sum
(aku berpikir maka aku ada)
– Rene Descartes

  • Istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani “philosophia” yang tersusun dari kata “philein” yang berarti cinta dan “sophia” yang artinya kebijaksanaan, kearifan, atau kebenaran.
  • Secara etimologis dapat dikatakan bahwa philosophia atau dalam bahasa Indonesia disebut filsafat berarti cinta terhadap kebijaksanaan atau cinta pada kebenaran, dalam hal ini ilmu pengetahuan.
  • Terdapat beberapa pengertian filsafat yang didefinisikan oleh para tokoh, diantaranya:
  • Menurut Plato (427-347 SM), filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang hakekat.
  • Menurut Aristoteles (384-322 SM), filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang meliputi kebenaran yang di dalamnya terkandung ilmu – ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat keindahan).
  • Rene Descartes mengatakan bahwa filsafat adalah kumpulan semua pengetahuan di mana Tuhan, alam, dan manusia menjadi pokok penyelidikan.
  • Prof.Dr. N. Driyakara S.J., dalam bukunya Percikan Filsafat menyatakan bahwa filsafat merupakan pikiran manusia yang radikal, artinya dengan mengesampingkan pendirian dan pendapat ‘yang diterima saja’ mencoba memperlihatkan pandangan yang merupakan akar dari lain-lain pandangan dan sikap praktis.
  • Dalam beberapa literatur, masih belum ada kesamaan mengenai tokoh yang pertama kali menggunakan kata ‘filsafat’. Tapi yang jelas istilah ‘filsafat’ lahir dan mengalami perkembangan yang begitu pesat dari peradaban Yunani kuno sejak abad ke-4 SM.
  • Namun, terdapat beberapa literatur yang menyebutkan bahwa istilah filsafat pertama kali digunakan Pythagoras (582-496 SM). Cicero (106-43 SM) yang merupakan penulis terkenal dari Romawi mencatat istilah ‘filsafat’ dipakai Pythagoras sebagai wujud reaktif yang ditujukan kepada para cendekiawan yang menamakan dirinya sebagai ‘ahli pengetahuan’.
  • Pythagoras menyatakan bahwa pengetahuan itu sangat luas dan terus berkembang seiring berjalannya waktu, sehingga tidak seorangpun yang akan mencapai ujungnya. Menurut Pythagoras, kita lebih cocok dikatakan sebagai pencari dan pencinta pengetahuan dan kebijaksanaan, yakni filosof.

Mengenal Filsafat

Part 2

Awal Kehidupan Menurut Pemikiran Tokoh Filsafat Yunani

Menurut beberapa literatur yang mengkaji tentang filsafat, terdapat keyakinan masyarakat (terutama Yunani) bahwa terbentuknya alam kehidupan di bumi diciptakan oleh dewa yang merupakan sumber segala yang ada (pencipta segala sesuatu). Sekitar abad ke-4 sampai ke-2 SM, terdapat beberapa filsuf yang merumuskan awal mula terciptanya alam kehidupan di bumi. Diantaranya seperti Thales, Anaximenes, Heraklitus, Phytagoras, Leukippos, Democritus, Empedokles, dan masih banyak lagi.

  1. Thales (624-548 SM)

Beberapa literatur menyebutkan bahwa Thales merupakan orang pertama yang merumuskan jawaban atas pertanyaan asal muasal benda dan segala kehidupan di muka bumi. Menurutnya, asal kehidupan di dunia ini berasal dari air. Air dianggap sebagai benda yang terus bergerak mengalir dan dipandang sebagai asas kehidupan. Thales berpendapat demikian karena ia tinggal di sebuah pulau yang setiap hari melihat lautan luas yang dapat memberikan kehidupan bagi masyarakat sekitarnya. Maka, tidak heran apabila Thales mengasumsikan bahwa kita tercipta dari air.

  • Anaximenes (585-528 SM)

Berbeda dengan Thales, Anaximenes berpendapat bahwa dasar semua benda dan kehidupan di alam berasal dari udara. Anaximenes berpendapat demikian karena berlandaskan pada pemikiran bahwa manusia dan semua makhluk hidup itu bernapas dengan mengambil udara. Tanpa adanya udara, manusia dan makhluk hidup lainnya akan mati dan tidak ada kehidupan di muka bumi.

  • Heraklitus (540-480 SM)

Heraklitos berpendapat bahwa segala sesuatu di alam ini tidaklah kekal dan terus mengalami perubahan. Artinya, hakikat segala sesuatu itu adalah perubahan itu sendiri. Adapun terjadinya perubahan itu tidak terjadi secara serta merta, melainkan tunduk dalam hukum yang disebut logos. Menurutnya, perubahan dilambangkan dengan sifat api, sehingga ia berpendapat bahwa dasarnya segala sesuatu itu berasal dari api. Anaximenes mengasumsikan demikian karena ia hidup dan tinggal di lereng gunung berapi, sehingga sering melihat percikan api  dan menyatakan bahwa kehidupan ini berasal dari api. 

  • Phytagoras (580-500 SM)

Phytagoras merupakan filsuf Yunani yang dikenal dengan keahliannya dalam bidang matematika. Sehingga tidak heran apabila ia mengajarkan kepada muridnya bahwa segala sesuatu berasal dari bilangan atau angka. Menurutnya, alam tersusun dari bilangan-bilangan. Kemudian, ia juga berpendapat bahwa manusia akan memperoleh pengetahuan tentang alam melalui pengetahuannya dari bilangan.

  • Leukippos

Sosok Leukippos sepertinya belum familiar dan terdengar masih asing sebagai seorang filsuf dari Yunani. Namun demikian, ia dianggap sebagai orang pertama yang mencetuskan tentang atom yang dikembangkan oleh Democritus. Berdasarkan penelitian yang ia lakukan sekitar 450-420 SM, Leukippos berpendapat bahwa segala sesuatu yang ada terdiri dari atom-atom dan ruang kosong yang tidak dapat dibagi-bagi dalam jumlah tak terhingga.

  • Democritus (460-370 SM)

Pandangan Democritus tidak berbeda dengan pandangan Leukippos. Ia mengembangkan teori atom yang dicetuskan oleh Leukippos bahwa alam semesta terdiri dari atom-atom dan ruang hampa. Istilah atom berasal dari kata atomos yang berarti tidak dapat dibagi (a: tidak dan tomos: dapat dibagi). Atom-atom itu bersifat kekal, tidak dapat dilihat, dan tidak dapat dibagi. Kumpulan atom bergerak bebas dan dapat mengubah posisi, berat, ukuran, dan kecepatan. Perubahan wujud benda disebabkan oleh gerakan, tumbukan, dan pengikatan kembali. Suatu benda dapat dilihat oleh mata karena susunan atomnya bergerak menyentuh indra manusia.

  • Empedokles (490-430 SM)

Empedokles berpandangan bahwa alam semesta terdiri dari empat unsur utama yang meliputi udara, api, air, dan tanah. Masing-masing unsur tersebut memiliki sifat dan karakterisitik yang berbeda. Udara bersifat dingin, api bersifat panas, air berwujud basah, dan tanah berwujud kering. Suatu benda dapat terbentuk karena secara alamiah terjadi percampuran antara unsur-unsur tersebut. Pandangan Empedokles ini tidak terlepas dari pengaruh Phytagoras. Empedokles juga berpendapat bahwa selain empat unsur tersebut juga terdapat unsur lain yakni cinta dan kebencian.

Dari penjelasan sebelumnya, dapat diketahui bahwa setiap filsuf mengemukakan pemikirannya dengan terlebih dahulu bertanya-tanya mengenai fenomena yang ada di sekitar. Mereka sama-sama mengajukan pertanyaan “dari mana asal muasal kehidupan?”. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mereka merenung, berpikir keras, dan kemudian menyimpulkan hasil berpikir untuk memperoleh makna atau hakikat permasalahan. Jika diamati, sikap dan cara berpikir tokoh-tokoh tersebut dapat digolongkan sebagai filsuf atau ahli filsafat. Mereka menggunakan akal dan hari nurani untuk mengungkap suatu realitas dan mencari hakikat kebenaran menggunakan ilmu pengetahuan.