Resume Bedah Film Laskar Pelangi

Penulis: Amry Yahya

Film Laskar Pelangi

Laskar Pelangi merupakan salah satu film inspiratif Indonesia yang tayang pada 2008. Film ini diadaptasi dari novel best seller berjudul sama karya Andrea Hirata dan mendapat sambutan positif dengan perolehan penonton mencapai 4.6 juta di bioskop. Berdurasi 125 menit, Laskar Pelangi merupakan film hasil garapan kerjasama sutradara Riri Riza, penulis skenario Salman Aristo, dan produser Mira Lesmana.

        Film ini berfokus pada kisah anak-anak yang bersekolah di desa Gantong, Pulau Belitung, nama sekolah tersebut adalah SD Muhammadiyah Gantong dan menjadi satu-satunya tempat bersekolah anak-anak miskin di desa tersebut. Tiga tokoh utama dalam film ini yaitu Ikal, Lintang, dan Mahar. Secara garis besar, kejadian-kejadian yang paling penting dalam film ini yaitu mulai hampir ditutupnya SD Muhammadiyah karena kekurangan murid, keberhasilan SD Muhammadiyah meraih juara 1 suatu lomba karnaval dan juara lomba cerdas cermat, meninggalnya Bapak Harfan (Ikranagara) selaku kepala SD Muhammadiyah Gantong, meninggalnya Ayah dari Lintang, dan ditutup dengan keberhasilan Ikal meraih mimpinya yaitu ke paris karena berhasil mendapat beasiswa belajar di sana.

            Secara keseluruhan film tersebut sangat bagus. Kisahnya sangat relevan terhadap kondisi pendidikan maupun kesenjangan ekonomi di Indonesia. Alurnya juga sangat mantap, di mana tensi pada film ini bisa naik turun dengan baik. Namun, pengembangan karakter masih kurang. Cerita dalam keseluruhan film hampir selalu berkutat pada Ikal, Lintang, dan Mahar. Tokoh-tokoh lain, terutama murid-murid SD Muhammadiyah selain ketiga anak tersebut tidak terlalu disorot. Dari aspek lain, film tersebut cukup mendekati realita dan cukup adil, mengutip kata pemateri, ending film tersebut bisa dikatakan bittersweet. Pahit dalam film ini yaitu ketika ayah Lintang, murid paling cerdas di SD Muhammadiyah meninggal, sehingga Lintang harus keluar dari sekolah untuk mengurus adik-adiknya yang sudah tidak punya orang tua lagi. Sehingga menurut penulis sendiri hal ini sangat menyesakkan, seseorang yang berpotensi menjadi orang hebat harus kehilangan kesempatannya dengan berhenti bersekolah. Sedangkan manis dalam film ini yaitu keberhasilan Ikal dalam meraih mimpinya yaitu datang ke kota Paris.

            Film ini sedikit banyak menunjukkan kondisi pendidikan dan kesenjangan ekonomi di Indonesia. Masih banyak anak-anak miskin di daerah Indonesia yang kesulitan mendapatkan pendidikan. Film tersebut memberikan motivasi kepada kita walaupun Ikal dan kawan-kawan begitu sulit mengakses pendidikan, mereka tetap berusaha dengan berbagai fasilitas yang ada. Film tersebut seperti menegaskan sebegitu pentingnya pendidikan bagi Ikal, karena umumnya pemikiran orang-orang tua pada film tersebut adalah sekolah tidak terlalu berguna, dan lebih banyak orang yang memutuskan untuk langsung bekerja. Namun akhirnya pertaruhan Ikal tepat, karena dia bisa mendapatkan beasiswa ke Paris, kota yang dia impikan.